Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Januari 2012

Pesawat Rakitan Siswa SMK Jakarta Mampu Untuk Terbang Sampai Malaysia

Sebelum siswa SMK Solo merakit mobil Esemka, Pelajar SMK 29 Jakarta ternyata sudah mampu merakit pesawat.

Pesawat yang diberinama Jabiru J430 itu mampu terbang dari Jakarta ke Surabaya dengan kecepatan rata-rata 130 knot dan berbahan bakal 80 liter Pertamax.

Dengan bobot 200 kilogram, panjang sayap 9,5 meter, panjang badan 6,5 meter, dan tinggi 2,4 meter, pesawat yang dirancang untuk empat kursi yaitu pilot, ko-pilot, dan dua penumpang ini juga diyakini mampu terbang sampai ke Singapura dan Malaysia.

"Dengan kekuatan 3300 cc berbahan bakar pertamax, pesawat bisa digeber sampai ketinggian maksimal 14 ribu kaki dengan kecepatan 130 knot. Tapi kalau untuk terbang lebih nyaman cukup di bawah 10 ribu kaki," jelas Kepala Program Keahlian Airframe & Powerplant SMK N 29 Jakarta, Ahmad Budiman, akhir pekan kemarin.

Ahmad mengakui, bahan yang digunakan masih mengandalkan material impor karena hampir 95 persen berbahan komposit kimia. "Tapi, untuk bahan-bahan pendukung lain semuanya lokal," katanya.

Dia menambahkan, perakitan Jabiru sudah dilakukan sejak tiga bulan lalu oleh siswa kelas dua dan kelas tiga dari jurusan Air Frame dan Power Plant.

Selama perakitan, katanya, para siswa didampingi para instruktur maskapai penerbangan Garuda Indonesia Airways, Lion Air, TNI Angkatan Udara (AU), dan Federasi Aerosport Indonesia.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto mengatakan, pihaknya pernah mengajukan bantuan untuk perakitan mobil. "Tapi belum disetujui. Yang disetujui malah perakitan pesawat," ujarnya.

Selain merakit pesawat, kata Taufik, siswa SMKN 29 Jakarta juga sudah pernah membuat  laptop, televisi dan sepeda motor. "Kami malah pertama yang merakit motor di Indonesia," pungkasnya.
Sumber:http://m.berita8.com/news.php?tgl=&cat=7&id=51676

Kamis, 05 Januari 2012

Sains & Teknologi Radiasi Bisa Dijadikan Pengawet Makanan

Sains & Teknologi

Radiasi Bisa Dijadikan Pengawet Makanan

Radiasi yang bukan dari energi keras seperti nuklir, tidak berdampak pada kesehatan.


 
 



Radiasi saat ini masih menjadi momok bagi masyarakat awam. Umumnya, radiasi dikaitkan dengan dampak negatif bagi kesehatan manusia, misalnya radiasi dari nuklir maupun listrik.
Tapi, sebenarnya energi dari sumber radiasi lain dapat dimanfaatkan untuk pengawetan makanan yang aman untuk kesehatan. Pada dasarnya, radiasi yang bukan dari energi keras seperti nuklir, tidak berdampak pada kesehatan.

Sumber radiasi ada pula yang berasal dari Cobalt-60, Cs-137 yang menghasilkan sinar gamma, mesin berkas elektron, dan mesin generator sinar-X. Dengan pembatasan dosis iradiasi dan batas maksimum empat sumber tersebut, bahan makanan yang diawetkan tidak menjadi radioaktif. Standar amannya yakni 5 MeV dan 10 MeV untuk mesin bekas elektron,

"Ini beda dengan makanan yang terkena radioaktif dampak dari nuklir. Ini radiasi dari non energi," kata Kepala Kelompok Bahan Makanan BATAN, Zubaedah Iriawati, di kantornya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis, 5 Januari 2012.

Proses pengawetan dengan sumber radiasi ini dikenal dengan iradiasi. Jenis radiasi yang digunakan adalah radiasi berenergi tinggi (radiasi pengion), karena menimbulkan ionisasi pada materi yang dilaluinya.

Dalam prosesnya, terjadi interaksi antara radiasi dan materi atau sel hidup yang menimbulkan berbagai proses fisika dan kimia, yang menghambat perkembangan sel hidup, mikroba.

"Jadi, dapat memperpanjang masa simpan makanan, juga menunda pertunasan, karena bisa bunuh kuman," tutur lulusan ITB itu.

Proses iradiasi ini, dia melanjutkan, sama halnya saat menggoreng ikan. "Kalau goreng ikan kan dengan panas, ini dengan sinar," paparnya.

Ia menyebutkan, pengawetan pepes rendang bisa tahan sampai 2 tahun. Ada lagi, tahu Yinyin juga bisa tahan 6 bulan. "Jadi radiasi untuk ini tidak apa-apa," ujarnya.

Pengawetan ini dapat digunakan untuk orang yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah, seperti pengidap HIV, kanker, dan tumor. "Untuk orang yang berhaji, terlebih korban bencana alam, cocok juga untuk pebisnis," tuturnya.
Pihaknya mengaku sudah memberikan makanan hasil pengawetan iradiasi kepada korban bencana gempa Padang beberapa waktu lalu. "Jadi, nutrisinya bagus, korban bencana tetap sehat," ujarnya. Makanan iradiasi ini telah diekspor ke Eropa, Amerika, dan Timur Tengah.

mengenal gas karbon monoksida












Belum lama ini kita mendengar kabar bahwa Adesagi dan Randi ditemukan tewas akibat keracunan gas monoksida.Tidak lama setelah itu,sepasang suami istri ditemukan tewas dalam sebuah kamar yang terkontaminasi karbon monoksida.Ada lagi kabar soal 6 penumpang yang tewas didalam mobil dalam Kondisi AC Menyala
dan masih banyak kasus-kasus keracunan serupa dan bisa jadi akan ada korban-korban selanjutnya.

So...seperti apakah karakteristik Gas carbon ini.?

Karbon Monoksida

Karbon monoksida, rumus kimia CO, adalah gas yang tak berwarna, tak berbau, dan tak berasa. Ia terdiri dari satu atom karbon yang secara kovalen berikatan dengan satu atom oksigen. Dalam ikatan ini, terdapat dua ikatan kovalen dan satu ikatan kovalen koordinasi antara atom karbon dan oksigen.

Karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran tak sempurna dari senyawa karbon, sering terjadi pada mesin pembakaran dalam. Karbon monoksida terbentuk apabila terdapat kekurangan oksigen dalam proses pembakaran. Karbon monoksida mudah terbakar dan menghasilkan lidah api berwarna biru, menghasilkan karbon dioksida. Walaupun ia bersifat racun, CO memainkan peran yang penting dalam teknologi modern, yakni merupakan prekursor banyak senyawa karbon.


Karbon Monoksida Dalam Atmosfer

Karbon monoksida, walaupun dianggap sebagai polutan, telah lama ada di atmosfer sebagai hasil produk dari aktivitas gunung berapi. Ia larut dalam lahar gunung berapi pada tekanan yang tinggi di dalam mantel bumi. Kandungan karbon monoksida dalam gas gunung berapi bervariasi dari kurang dari 0,01% sampai sebanyak 2% bergantung pada gunung berapi tersebut. Oleh karena sumber alami karbon monoksida bervariasi dari tahun ke tahun, sangatlah sulit untuk secara akurat menghitung emisi alami gas tersebut.

Karbon monoksida memiliki efek radiative forcing secara tidak langsung dengan menaikkan konsentrasi metana dan ozon troposfer melalui reaksi kimia dengan konstituen atmosfer lainnya (misalnya radikal hidroksil OH-) yang sebenarnya akan melenyapkan metana dan ozon. Dengan proses alami di atmosfer, karbon monoksida pada akhirnya akan teroksidasi menjadi karbon dioksida. Konsentrasi karbon monoksida memiliki jangka waktu pendek di atmosfer.

CO antropogenik dari emisi automobil dan industri memberikan kontribusi pada efek rumah kaca dan pemanasan global. Di daerah perkotaan, karbon monoksida, bersama dengan aldehida, bereaksi secara fotokimia, meghasilkan radikal peroksi. Radikal peroksi bereaksi dengan nitrogen oksida dan meningkatkan rasio NO2 terhadap NO, sehingga mengurangi jumlah NO yang tersedia untuk bereaksi dengan ozon. Karbon monoksida juga merupakan konstituen dari asap rokok.

Bagaimana Gas Ini Membunuh?
Karbon monoksida sangatlah beracun dan tidak berbau maupun berwarna. Ia merupakan sebab utama keracunan yang paling umum terjadi di beberapa negara.Paparan dengan karbon monoksida dapat mengakibatkan keracunan sistem saraf pusat dan jantung. Setelah keracunan, sering terjadi sekuelae yang berkepanjangan. Karbon monoksida juga memiliki efek-efek buruk bagi bayi dari wanita hamil. Gejala dari keracunan ringan meliputi sakit kepala dan mual-mual pada konsentrasi kurang dari 100 ppm. Konsentrasi serendah 667 ppm dapat menyebabkan 50% hemoglobin tubuh berubah menjadi karboksihemoglobin (HbCO). Karboksihemoglobin cukup stabil, namun perubahan ini reversibel. Karboksihemoglobin tidaklah efektif dalam menghantarkan oksigen, sehingga beberapa bagian tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Sebagai akibatnya, paparan pada tingkap ini dapat membahayakan jiwa. Di Amerika Serikat, organisasi Administrasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja membatasi paparan di tempat kerja sebesar 50 ppm.

Mekanisme bagaimana karbon monoksida mengakibatkan efek keracunan belum sepenuhnya dimegerti, namun hemoglobin, mioglobin, dan sitosom oksidase mitokondria diduga terkompromi (compromised). Kebanyakan pengobatan terdiri dari pemberian 100% oksigen atau terapi oksigen hiperbarik, walaupun pengobatan ini masih kontroversial.Keracunan karbon monoksida domestik dapat dicegah dengan menggunakan detektor karbon monoksida.

Beberapa Sumber Penghasil Karbon Monoksida
















0.1 ppm - kadar latar alami atmosfer
0.5 to 5 ppm - rata-rata kadar latar di rumah
5 to 15 ppm - kadar dekat kompor gas rumah
100-200 ppm - daerah pusat kota Meksiko
5,000 ppm - cerobong asap rumah dari pembakaran kayu
7,000 ppm - gas knalpot mobil yang tidak diencerkan - tanpa pengubah katalitik
30,000 ppm - asap rokok yang tidak diencerkan

Pertolongan Pertama Pada Korban













  1. Segera Bawa korban ke tempat yang jauh dan aman daru sumber karbon monoksida
  2. longgarkan pakaian korban untuk memudahkan ia bernafas
  3. pastikan korban masih bernafas dan segera berikan oksigen murni
  4. korban harus istirahat dan tidak diperbolehkan sama sekali untuk banyak gerak
  5. setelah itu baru bawa korban ke rumah sakit terdekat
Untuk Di Mobil,Berikut ada tips pencegahan

  1. Rutin memeriksakan sistem pembuangan kendaraan setiap tahunnya, kebocoran kecil saja pada sistem pembungannya bisa memicu gas beracun karbon monoksida masuk ke dalam mobil.
  2. Jangan pernah menyalakan mobil di dalam garasi tertutup, karbon monoksida bisa cepat memenuhi ruangan tersebut. Sebaiknya membuka jendela dan pintu ketika mobil berhenti sehingga sirkulasi udara berjalan dengan baik dan udara luar bisa menetralisisr karbon monoksida.
  3. Jika ingin beristirahat dalam mobil, jangan menutup semua kaca dan pintu dengan penyejuk udara yang masih menyala. Banyak kasus kematian dalam mobil akibat tertidur dan keracunan gas karbon monoksida.
  4. Periksa Sistem AC apakah ada atau tidak kebocoran
Info Tambahan












Tidak Seperti Indonesia,Di Amerika hampir semua tempat tinggal terutama kota-kota besar seperti New York telah di pasangi Karbon Monoksida Detektor Minimal Satu Perangkat.Dengan adanya alat ini dapat meminimalisir korban yang jatuh akibat paparan gas mematikan ini,apalagi di daerah penuh polutan seperti New York.Di Indonesia sendiri alat semacam ini sudah tersedia,Namun karena kurangnya sosialisasi tidak banyak masyarakat yang tahu.

Rabu, 04 Januari 2012

Badai Matahari Melenyapkan Bulan?

Badai Matahari mungkin tak akan melenyapkan Bumi, hanya berpotensi menimbulkan gangguan telekomunikasi, navigasi, dan kelistrikan. Tapi bagaimana dampak badai Matahari bagi Bulan yang ukurannya lebih kecil dan tidak memiliki atmosfer? Akankah badai Matahari melenyapkan Bulan?
Studi terdahulu mengungkap bahwa angin Matahari yang memiliki muatan bisa mengakibatkan material di permukaan Bulan terlontar. Studi terbaru NASA mengungkap bahwa dengan prosentase ion berat seperti helium, oksigen, dan besi yang lebih tinggi, maka badai Matahari bisa melontarkan lebih banyak material dari Bulan.
"Kami menemukan bahwa ketika awan plasma yang sangat massif ini mengenai Bulan, ia beraksi seperti 'penghambur pasir' dan segera mengangkat material mudah menguap dari permukaan Bulan," kata William Farrel, pimpinan Dynamic Response of the Environment at the Moon (DREAM) dari NASA Goddard Space Flight Center.
Farrel yang terlibat penelitian terbaru NASA tersebut seperti dikutip National Geographic, Jumat (9/12/2011), menuturkan, "Model yang dikembangkan memprediksi bahwa 100 - 200 ton material Bulan, atau setara dengan muatan 10 bak truk, bisa terhambur akibat lontaran massa korona besar selama 2 hari."
Rosemary Killen, juga dari NASA Goddard Space Flight Center, mengatakan bahwa sekali terhambur, 90 persen massa material Bulan terbang ke angkasa. Partikel itu akan terionisasi, tertarik bersama angin Matahari. Partikel tersebut ada dalam bentuk atomik, jadi tidak memproduksi hujan meteor.
Hasil studi ini masih harus diuji lagi. Tahun 2013 adalah puncak aktivitas Matahari, di mana frekuensi badai Matahari juga akan meningkat, Wahana Lunar Atmosphere and Dust Environment Explorer (LADEE) akan membuktikan kebenaran studi ini. Jika benar, maka partikel bisa mencapai ketinggian 20-50 km dari permukaan Bulan.
Nah, lalu, apakah dengan terlontarnya material Bulan ke angkasa ini akan melenyapkan Bulan? Tidak. Jumlah partikel yang terlontar sangat kecil dibandingkan massa Bulan keseluruhan. Di samping itu, material yang terlontar akan menyeimbangkan partikel yang masuk dari meteorit dan angin Matahari sendiri.
Jadi, Bulan tidak akan lenyap atau tererosi secara perlahan kemudian hilang. Bahkan, jejak pendaratan astronot di Bulan masih akan ada dan bisa terlihat hingga jutaan tahun mendatang, bila manusia masih punya kesempatan melihatnya. Demikian studi yang diterbitkan di Journal of Geophysical Research-Planet itu.
Secara terpisah, astrofisikawan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengatakan bahwa badai Matahari justru akan berefek pada planet lain yang tidak memiliki medan magnet. Atmosfer dari planet-planet tersebut akan terkikis sedikit demi sedikit.
"Badai matahari yang masuk itu, kan, merupakan partikel energetik. Ini memungkinkan terjadinya penghilangan atmosfer, penghapusan sedikit demi sedikit. Atmosfer planet-planet itu akan makin menipis," kata Thomas saat dihubungi Kompas.com, Rabu (4/1/2012) hari ini.
Bagi Bumi, efek yang sama tidak terjadi. Sebabnya, Bumi memiliki medan magnet yang diperoleh karena inti Bumi memiliki banyak kandungan besi. Sementara, bagi planet gas seperti Jupiter, badai Matahari juga takkan begitu berpengaruh karena jarak Matahari dan Jupiter yang sangat jauh.
Sumber : http://m.kompas.com/news/read/2012/01/04/17062015/Badai.Matahari.Melenyapkan.Bulan

twitter

HTML Comment Box is loading comments...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...